Sensasi, Persepsi, dan Ilusi Sosial
Tahap paling awal dari penerimaan informasi
ialah sensasi. Sensasi berasal dari kata “sense”,
artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya.
Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih
dari itu, melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua
kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Kita mengenal lima alat indera
atau pancaindera, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan
perasa. Sensasi dipengaruhi oleh factor situasional dan factor personal. Factor
situasional dari luar, misalnya: lembutnya suara dan tajamnya bebauan.
Sedangkan factor personal adalah hal-hal yang dimiliki seseorang, misalnya:
kapasitas alat indera, pengalaman seseorang, dan lingkungan budaya.
Persepsi adalah
proses memberi makna pada sensasi. Persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan,
pandangan, penciuman, dan perasaan yang kemudian ditafsirkan. Persepsi dapat
disebut juga sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menyimpulkan
pesan. Hubungan sensasi dan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari
persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya
melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspetasi, motivasi, dan memori. Persepsi ditentukan oleh factor fungsional/personal,
diantaranya: kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian,
jenis kelamin, proses belajar, motif, dan pengetahuan terhadap obyek psikologis
dll yang bersifat subyektif. Persepsi juga ditentukan oleh factor structural
atau factor dari luar individu, diantaranya: lingkungan keluarga, lingkungan
social hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat.
Apa
itu Ilusi Sosial? Ilusi adalah pengamatan yang keliru, peristiwa objektif yang
diterima oleh indera ternyata ditangkap secara salah. Sedangkan social
merupakan segala yang berhubungan dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari
seperti hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan kelompok, dan
kelompok dengan kelompok. Salah satu bagian dari ilusi social yaitu Fanatisme. Fanatisme
merupakan suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu yang positif
atau negative, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan
kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah.
Seperti hal nya fans kpop atau kpopers yang ada di Indonesia. Banyak sekali
yang menyukai budaya korea tersebut, mulai dari music dan juga dance. Pada
beberapa tahun yang lalu, grup band asal korea selatan atau yang biasa disebut
boyband Super Junior, datang ke Indonesia dalam acara music bank. Mereka
terdiri dari 9 orang cowok keren yang pandai bernyanyi dan juga menari. Teman
saya yang merupakan salah satu fans dari boyband tersebut merasa senang karena
idolanya akan perform di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Teman saya sangat
antusias untuk membeli tiket konser tersebut, dengan mengeluarkan budget yang
tidak sedikit demi melihat idolanya tersebut di Jakarta. Tidak hanya membeli
tiket tapi juga membeli aksesoris-aksesoris yang digunakan oleh boyband
tersebut. Seperti, lightstick, poster, pin, dan juga jaket. Bukan hanya di Indonesia saja fans kpop yang
terbilang fanatik, tapi juga di Korea itu sendiri sangat banyak fans yang rela
membelikan benda-benda mahal untuk idolanya tersebut. Baru-baru ini saya melihat
social media yang berisikan fakta mengenai artis-artis kpop, bahwa seorang fans
di Korea rela memberikan hadiah berupa laptop gaming dan iPhone 7 kepada salah
satu anggota boyband kpop. Terlihat sekali bahwa mereka sangat mencintai
idolanya dan rela memberikan apapun untuknya, sehingga segala sesuatu yang
mereka sukai/kagumi menjadi selalu benar. Sekarang ini makin banyak munculnya fans vs haters di kalangan boyband dan
juga girlband. Jadi, sebaiknya kita menghindari sikap fanatic yang berlebihan
tersebut, karena dapat merugikan diri sendiri dan juga untuk orang lain.
Referensi
:
·
Rakhmat, Jalaludin. (2012). PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar