Rabu, 15 Maret 2017



Sensasi, Persepsi, dan Ilusi Sosial



 Tahap paling awal dari penerimaan informasi ialah sensasi. Sensasi berasal dari kata “sense”, artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Sensasi dipengaruhi oleh factor situasional dan factor personal. Factor situasional dari luar, misalnya: lembutnya suara dan tajamnya bebauan. Sedangkan factor personal adalah hal-hal yang dimiliki seseorang, misalnya: kapasitas alat indera, pengalaman seseorang, dan lingkungan budaya.

Persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi. Persepsi sebagai  proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman, dan perasaan yang kemudian ditafsirkan. Persepsi dapat disebut juga sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menyimpulkan pesan. Hubungan sensasi dan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspetasi, motivasi, dan memori. Persepsi  ditentukan oleh factor fungsional/personal, diantaranya: kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, proses belajar, motif, dan pengetahuan terhadap obyek psikologis dll yang bersifat subyektif. Persepsi juga ditentukan oleh factor structural atau factor dari luar individu, diantaranya: lingkungan keluarga, lingkungan social hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat.

Apa itu Ilusi Sosial? Ilusi adalah pengamatan yang keliru, peristiwa objektif yang diterima oleh indera ternyata ditangkap secara salah. Sedangkan social merupakan segala yang berhubungan dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Salah satu bagian dari ilusi social yaitu Fanatisme. Fanatisme merupakan suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu yang positif atau negative, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Seperti hal nya fans kpop atau kpopers yang ada di Indonesia. Banyak sekali yang menyukai budaya korea tersebut, mulai dari music dan juga dance. Pada beberapa tahun yang lalu, grup band asal korea selatan atau yang biasa disebut boyband Super Junior, datang ke Indonesia dalam acara music bank. Mereka terdiri dari 9 orang cowok keren yang pandai bernyanyi dan juga menari. Teman saya yang merupakan salah satu fans dari boyband tersebut merasa senang karena idolanya akan perform di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Teman saya sangat antusias untuk membeli tiket konser tersebut, dengan mengeluarkan budget yang tidak sedikit demi melihat idolanya tersebut di Jakarta. Tidak hanya membeli tiket tapi juga membeli aksesoris-aksesoris yang digunakan oleh boyband tersebut. Seperti, lightstick, poster, pin, dan juga jaket. Bukan  hanya di Indonesia saja fans kpop yang terbilang fanatik, tapi juga di Korea itu sendiri sangat banyak fans yang rela membelikan benda-benda mahal untuk idolanya tersebut. Baru-baru ini saya melihat social media yang berisikan fakta mengenai artis-artis kpop, bahwa seorang fans di Korea rela memberikan hadiah berupa laptop gaming dan iPhone 7 kepada salah satu anggota boyband kpop. Terlihat sekali bahwa mereka sangat mencintai idolanya dan rela memberikan apapun untuknya, sehingga segala sesuatu yang mereka sukai/kagumi menjadi selalu benar. Sekarang ini makin banyak munculnya fans vs haters di kalangan boyband dan juga girlband. Jadi, sebaiknya kita menghindari sikap fanatic yang berlebihan tersebut, karena dapat merugikan diri sendiri dan juga untuk orang lain.

 

Referensi :

·         Rakhmat, Jalaludin. (2012). PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar