Peran
Komunikasi dalam Konseling Psikologi dengan
“Pasien RSJ”
Menurut James (1890) definisi psikologi adalah ilmu yang
mempelajari kehidupan mental, baik dari fenomenanya dan kondisinya. Fenomena adalah
hal-hal seperti yang kita sebut segi kehidupan sebagai perasaan, keinginan,
kesadaran, daya nalar, alasan, keputusan, dan kehidupan.
Psikiater merupakan orang yang menangani kejiwaan
seseorang dengan cara komunikasi dengan pasien tersebut maupun keluarga ataupun
kerabatnya. Dengan berkomunikasilah seorang psikiater dapat mengetahui latar
belakang penyebab gangguan yang diderita seorang pasien, sehingga dapat
menyimpulkan penyebab-penyebab terjadinya gangguan jiwa yang dideritanya.
Psikiater dapat melakukan komunikasi interpersonal dengan
pasien. Jenis komunikasi ini efektif mengubah sikap atau perilaku seseorang
karena bersifat dialogis. Dari hasil dialog tersebut akan diketahui pribadi
seseorang tentang apa yang disukai, tidak disukai, berdiskusi mengenai perasaan
dan pikiran orang tersebut. Dengan pertemuan interpersonal kita dapat
memberikan saran kepada pasien mengenai hal-hal apa saja yang dia perlukan.
Berdasarkan Skinner (1987): “ ‘Methodological’
behaviourists often accept the existence of feelings and states of mind, but do
not deal with them because they are” Metode atau pendekatan behaviourist seringkali
menerima adanya perasaan dan pernyataan, tapi tidak berhubungan dengan keduanya.
Saya setuju dengan pernyataan Skinner bahwa pikiran dan ‘covert behaviours’ lainnya tidak menjelaskan
perilaku kita (karena hal itu tidak dapat menentukan apa yang kita lakukan).
Dengan
menggunakan teori diatas kita dapat melakukan pendekatan terhadap pasien RSJ melalui
komunikasi interpersonal baik dengan pasien itu sendiri dan juga melakukan
komunikasi interpersonal dengan keluarga / teman dekat / kerabat pasien
tersebut, untuk mengetahui kepribadian pasien tersebut sebelum dia menderita
sakit jiwa. Dengan demikian akan lebih mudah bagi seorang psikiater merumuskan
permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan komunikasi interpersonal dalam
menangani kasus psikologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar