Hallo teman-teman, Kali
ini saya akan menjelaskan sedikit mengenai Silogisme.
Apa
itu Silogisme? Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara
deduktif. Silogisme disusun atas dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi
(kesimpulan). Telah dikatakan bahwa silogisme disusun oleh
pernyataan dan kesimpulan atau proposisi dan konklusi. Di dalam proposisi
terdapat dua buah premis yaitu premis mayor (premis umum) dan premis minor
(premis khusus).
Contoh :
PMa : Semua makanan yang mengandung bahan pengawet tidak
sehat bagi tubuh.
PMi : Mie instan mengandung bahan pengawet.
K : Mie instan tidak sehat bagi
tubuh.
Saat ini banyak sekali
media-media yang mengeluarkan berita hoax. Banyak
sekali berita-berita hoax di Social Media. Contohnya kabar soal penculikan anak dengan pelaku yang berpura-pura
menjadi orang gila masih meluas di daerah Sumatera Selatan, dua orang gila
bahkan menjadi korban. Mereka ditangkap dan dipukuli lantaran dicurigai
sebagai penculik anak, seperti informasi yang beredar di kalangan warga (Jumat,
24 Maret 2017).
Kini, guna mengantisipasi kejadian serupa, Polres Empat
Lawang akhirnya mengeluarkan maklumat yang berisi mewaspadai penyebaran
informasi hoax isu penculikan anak.
Yaitu,
Warga jangan cepat percaya. Penyebar informasi hoax
akan dikenakan sanksi sesuai Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik.
Mengapa
konten negative di medsos lebih cepat menyebar?
Sepuluh tahun lalu, tingkat kepercayaan orang kepada informasi oleh orang
yang dikenal belum begitu tinggi. Tapi sekarang, penyebaran informasi berjalan dengan begitu
cepatnya. Menurut Aloisius Wisnuwardhana, Staf Kantor Kepresidenan RI, konten negatif
di media sosial menyebar setengah kali lipat lebih cepat dari konten positif.
Secara psikologis, orang lebih suka mencari berita negatif daripada berita
positif. Terlebih di era digital seperti sekarang,
sangat mudah sekali menggunakan aplikasi yang dapat diunduh secara gratis untuk
membuat berita hoax di media sosial. Dari fenomena ini, bahkan muncul industrialisasi berita
sesat. Ditambah dengan perkembangan teknologi yang begitu masif saat ini,
membuat industri ini tumbuh sempurna. Rekayasa yang dibuat pun mudah. Seseorang bernama Spencer
pernah membuat mesin produksi berita palsu. Caranya adalah dengan membuat
kantung-kantung. Satu kantung berisi subjek yang bisa berupa siapa saja mulai dari politikus
hingga selebritis. Kantung berikutnya adalah predikat atau kata kerja seperti
meniduri, memacari, dan sebagainya. Kantung selanjutnya berisi objek, bisa
polisi, politisi, dan lain-lain. Dengan kantung-kantung itu, mesin kemudian
akan memunculkan berita. Yang lebih mencengangkan lagi, ketika dicari di mesin pencarian Google,
berita-berita itu akan dimunculkan dari situs berita yang terpercaya. Kemudian
dengan keberadaan tautan media sosial, berita itu pun dengan mudah menyebar lebih cepat.
Untuk
itu kita harus lebih berhati-hati dalam mengasumsikan suatu berita di media. Karena
belum tentu berita yang kita baca benar adanya dan belum terbukti kebenarannya.
Referensi :
